
Cerita ini era tahun tujuh puluhan s.d. tahun sembilan puluhan dengan menyusuri jalan setapak dengan dikiri kanan padang ilalang lebat dan semak belukar hutan kayu sungkai dikelilingi perpohonan karet tua, kebun lada dan kebun kopi. Jarak pondok tempat tinggal mereka satu sama lain (tetangga) saling berjauhan tidak seperti di Desa ataupun Kampung perkotaan.
Dipagi hari sampai dengan siang hari yang terdengar hanya suara-suara jeritan berbagai jenis kera dan babi hutan dan jika malam hari yang terdengar hanya suara burung-burung malam dan jeritan suara kijang juga terkadang suara rusa (menjangan).
Gelap gulita tidak ada penerangan hanya cahaya rembulan dan bintang-bintang dilangit serta kunang-kunang ikut menghiasi gelapnya malam.
Setelah berjalan beberapa puluh meter bahkan hingga ratus meter baru dijumpai Pondok panggung yang berlantaikan bambu dengan atap sirap dan dinding dari kulit kayu disisi luar dinding kiri dan kanan serta dapur bergantungan buah bernuk (buah maja) yang sudah dikeringkan dan dilubangi dikorek isinya, buah tersebut mereka gunakan sebagai gayung / wadah tempat air yang diambil dari sungai untuk kebutuhan minum dan masak sehari-hari mereka.
Itulah suasana dan keadaan pondok orang-orang pedalaman yang tinggal ditepi hutan belukar. Tidak ada lampu listrik ataupun alat elektronik sperti Televisi, VCD, dan Audio yang ada hanya radio kecil yang dapat dihidupkan dengan menggunakan batu batere kering sebagai alat hiburan, itupun siaran yang dapat mereka dengarkan hanya dari frekuensi AM kadang SW jika cuacanya bagus dan tidak ada siaran FM yang terdengar, namun begitu mereka nikmati kehidupan dengan tenang,tentram dan damai.
Rezeki yang mereka dapat hanya dari hasil berkebun tanaman keras (tahunan) seperti Karet, Kopi dan Lada. Yang sangat prihatin mereka nikmati hanya seperempat bagian saja dari hasil panen karena sudah dipanjar oleh para Tengkulak sehingga hidup mereka pas-pasan walau tanah kebunnya luas perlu modal banyak untuk mengelolanya.
Jika ingin memiliki lahan baru, harus kerja keras dengan merambah hutan baru untuk dijadikan kebun, sementara hutan yang ada sudah menipis bahkan sudah lenyap, karena banyak Petani-petani Berdasi yang ikutan mengambil bagian mereka.Sekarang di era tahun 2000 entah bagaimana apakah ada perubahan kondisi orang-orang pedalaman tersebut dengan hutannya dan hewan-hewan disekelilingnya….?. Situasi jaman sudah berubah dan saya juga tidak tahu karena tidak pernah lagi ber-eksplorasi.
Dipagi hari sampai dengan siang hari yang terdengar hanya suara-suara jeritan berbagai jenis kera dan babi hutan dan jika malam hari yang terdengar hanya suara burung-burung malam dan jeritan suara kijang juga terkadang suara rusa (menjangan).
Gelap gulita tidak ada penerangan hanya cahaya rembulan dan bintang-bintang dilangit serta kunang-kunang ikut menghiasi gelapnya malam.
Setelah berjalan beberapa puluh meter bahkan hingga ratus meter baru dijumpai Pondok panggung yang berlantaikan bambu dengan atap sirap dan dinding dari kulit kayu disisi luar dinding kiri dan kanan serta dapur bergantungan buah bernuk (buah maja) yang sudah dikeringkan dan dilubangi dikorek isinya, buah tersebut mereka gunakan sebagai gayung / wadah tempat air yang diambil dari sungai untuk kebutuhan minum dan masak sehari-hari mereka.
Itulah suasana dan keadaan pondok orang-orang pedalaman yang tinggal ditepi hutan belukar. Tidak ada lampu listrik ataupun alat elektronik sperti Televisi, VCD, dan Audio yang ada hanya radio kecil yang dapat dihidupkan dengan menggunakan batu batere kering sebagai alat hiburan, itupun siaran yang dapat mereka dengarkan hanya dari frekuensi AM kadang SW jika cuacanya bagus dan tidak ada siaran FM yang terdengar, namun begitu mereka nikmati kehidupan dengan tenang,tentram dan damai.
Rezeki yang mereka dapat hanya dari hasil berkebun tanaman keras (tahunan) seperti Karet, Kopi dan Lada. Yang sangat prihatin mereka nikmati hanya seperempat bagian saja dari hasil panen karena sudah dipanjar oleh para Tengkulak sehingga hidup mereka pas-pasan walau tanah kebunnya luas perlu modal banyak untuk mengelolanya.
Jika ingin memiliki lahan baru, harus kerja keras dengan merambah hutan baru untuk dijadikan kebun, sementara hutan yang ada sudah menipis bahkan sudah lenyap, karena banyak Petani-petani Berdasi yang ikutan mengambil bagian mereka.Sekarang di era tahun 2000 entah bagaimana apakah ada perubahan kondisi orang-orang pedalaman tersebut dengan hutannya dan hewan-hewan disekelilingnya….?. Situasi jaman sudah berubah dan saya juga tidak tahu karena tidak pernah lagi ber-eksplorasi.
Jika Anda sudah baca KLIK ini : http://shalatsempurna.com/ member.php Kalau mau nambah Gizi untuk Rohani kita agar lebih sehat, kuat & berkualitas dalam arti tingkat keimanan kita terhadap Allah SWT.
Thank's atas komentarnya..' iya nanti dilanjutkan sampai keanak cucu & arisan "On Line" tapi nggak dapet Meal & Snack he...he..he'
BalasHapus